Korea

” Dream High “

Cast

Tahun 2018

Berita di TV Korea mengabarkan mengenai Grammy Award yang sedang di adakan di Amerika dan salah satu dari Penyanyi Korea yaitu ‘K’ mendapatkan Album Of The Year dan lebih dari 50 juta orang memilihnya sebagai yang terbaik.

Seorang reporter TV membuat sebuah wawancara dengan Produsur Music Terkenal yaitu Jung Ha Myung yang merupakan produser dan juga pemilik Sekolah Seni Kirin. Ada foto dari para personil K yang masih menggunakan seragam dan reporter itu bertanya pada Ha Myung, “Apakah ini foto para personik K saat masih sekolah?” Ha Myung melihat foto itu dan tersenyum, “Ya. Foto ini di ambil saat mereka masih bersekolah. Mungkin sudah sekitar 8 tahun lalu.” Reporter itu kembali bertanya, “Saat kau menemukan K, Apakah kau pernah berfikir bahwa mereka akan memenangkan Grammy Award dan menjadi bintang besar di seluruh dunia?” Ha Myung menjawab, “Ya. Tapi aku bukanlah yang membuat K.” Reporter berkata, “Ah, kau terlalu rendah hati. Ah, K mengatakan di salah satu wawancara bahwa mereka mendapatkan banyak bantuan dari para guru.”

Ha Myung berkata, “Break Shot. Apakah kau tau itu?” Reporter menjawab, “Itu awal melakukan tendangan Kick Off.” Ha Myung menjelaskan, “Ya. Itu adalah perangkat untuk memulai sebuah permainan. Walaupun ini di mulai dengan sebuah tugas yang mudah. Walaupun dengan dinamin dan taktik yang sama, bola bisa bergerak ke tempat yang berbeda. Kemana bola akan pergi, itu sulit di tebak. Karena moment Break Shot itu telah selesai dan itu artinya aku selesai mengerjakan tugas.Semua yang terjadi sekarang adalah kehendak mereka.”

ini adalah lagunya😀😀

I dream high
I dream high
nan kkumeul kkujyo himdeul ttaemyeon
nan nuneul gamgo
kkumi irwojineun geu sunganeul
gyesok tteoollimyeo ireonajyo

duryeoumui kkeuteseo nan
oneuldo heundeullijyo
tteoreojilkka bwa
naraoreuji motaneun eorin saecheoreom
jakku naega hal su inna
nae kkumi irwojilkka
naeditneun georeum han georeum georeumi
dasi duryeowo jil ttaemada

I dream high
I dream high
nan kkumeul kkujyo himdeul ttaemyeon
nan nuneul gamgo
kkumi irwojineun geu sunganeul
gyesok tteoollimyeo ireonajyo

I can fly high
I can fly high naneun mideoyo
eonjenganeun nan jeo haneurwiro
nalgaereul pyeogo nugubodado
jayuropge nopi nara oreulgeoeyo

neomeojin nal ireukyeo jul yonggiga pillyohajyo
meonjireul teolgo dasi ireona
tto han beon ttwieogal yonggiga

dasi han beon nareul mitgo
naui unmyeongeul mitgo modeun geol geolgo
nae kiboda nopeun byeogeul ttwieo neomeulgeoeyo

I dream high
I dream high
nan kkumeul kkujyo himdeul ttaemyeon
nan nuneul gamgo
kkumi irwojineun geu sunganeul
gyesok tteoollimyeo ireonajyo

I can fly high
I can fly high naneun mideoyo
eonjenganeun nan jeo haneurwiro
nalgaereul pyeogo nugubodado
jayuropge nopi nara oreulgeoeyo

Dream high a chance to fly high
Dream high a chance to fly high
bye bye
apeumdeureun ijen modu da bye bye
haneure inneun jeo byeoldeulcheoreom
nopi narabwa
ni kkumdeureul pyeolchyeo boneun geoya

Time for u to shine
Time for u to shine
ijebuteo sijagiya
gotta make em mine
gotta make em mine
nisoneuro irwoga
mirael duryeowohaji ma
ijen himkkeot jasin itge georeoga

destiny
destiny sungmyeongiji
meomchul su eomneun unmyeongi jigeum
uri nunape pyeolchyeojiji
whole new fantasy
igeon neoreul wihan whole new fantasy
geureoni ijebuteo yeogi nae soneul jaba
uriui mokpyoneun jigeumbuteo hana
kkumgwa mirae pogihaji anha
Dream High
jeormeum yeoljeong yeogi moduda Dream High

I dream high
I dream high
nan kkumeul kkujyo himdeul ttaemyeon
nan nuneul gamgo
kkumi irwojineun geu sunganeul
gyesok tteoollimyeo ireonajyo

I can fly high
I can fly high naneun mideoyo
eonjenganeun nan jeo haneurwiro
nalgaereul pyeogo nugubodado
jayuropge nopi nara oreulgeoeyo

EPISODE 1
DREAM HIGH

Sinopsi Dream High Episode 1

Sinopsis Dream High Episode 1. Drama Korea Dream High Indosiar. Malam itu, penyanyi Korea, K, akan dianugerahi Grammy Award di Amerika Serikat. Album K yang berjudul Dream High telah terjual 100 juta kopi. Baca Juga Episode 2
Saat itu, penyanyi yang dimaksud sedang duduk diam sembari melihat sebuah foto beberapa siswa berseragam sekolah. Di meja didepan K, tergeletak sebuah kalung.
Sebelum beranjang ke panggung, K mengenakan kalung tersebut.

Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
“Benarkan ini adalah foto K saat masih duduk di bangku SMA?” tanya wartawan dalam siaran langsung.
“Ya.” ujar seorang pria berkacamata, Jung Ha Myung. “Dulu ia adalah siswa di sekolah kami sekitar… 8 tahun yang lalu.”
“Apa dulu kau pernah menebak K akan menjadi bintang yang memenangkan Grammy Award?” tanya wartawan lagi. “Saat melakukan wawancara dengan CNN, K mengatakan bahwa kau adalah tembakan loncatannya.”


“Tembakan pertama yang dilakukan untuk membubarkan bola billiar adalah tembakan loncatan.” kata Ha Myung. “Bahkan jika kau memukul bola pada sudut yang sama dan dengan kekuatan yang sama, bola-bola akan berpencar ke arah yang berbeda-beda. Bagaimana bola itu bertemu dan kemana mereka akan menuju, aku juga tidak bisa memprediksi. Jika tembakan tersebut salah, maka aku sudah tidak bisa lagi mengendalikan bola yang saling menabrak.”

Hye Mi adalah seorang penyanyi seriosa yang sangat berbakat.
Dua orang remaja putri sedang membicarakan dia. “Hyo Mi wanita yang cantik, kaya dan berbakat. Apa lagi yang tidak ia miliki?”
“Siapa dia?” tanya salah seorang remaja, menunjuk seorang gadis berkaca mata yang sibuk dengan fotonya.
“Dia adalah pengikut Hye Mi. Ia selalu berada disekeliling Hye Mi.” jawab temannya. “Ia orang yang aneh. Ia mengikuti gaya Hye Mi dari kepala hingga kaki.”
Gadis berkacamata tersebut langsung menyambut begitu Hye Mi keluar dan membantu Hye Mi membawakan barang-barangnya. Gadis berkacamata itu bernama Yoon Baek Hee.

Hye Mi mendekati kedua gadis itu dan berkata tegas. “Dia bukan pengikut Hye Mi. Namanya Yoon Baek Hee.”
Hye Mi mendekati salah satu gadis dan menyentuh rambut gadis itu. Gadis itu bernama Yong Mi. “Sepertinya kau selalu mengenakan ikat rambut pemberianku.” kata Hye Mi dingin. Sebenarnya aku ingin membuangnya. Tapi kau memakainya seakan-akan benda itu berharga untukmu. Aku jadi merasa tidak enak.”
Yong Mi langsung melepas ikat rambut itu.
Hye Mi tersenyum tipis. “Ayo pergi, Baek Hee!”
“Satu-satunya yang tidak dimiliki Hye Mi adalah sopan santun.” kata teman Yong Mi.

“Aku tidak keberatan dikatakan sebagai pengikut Hye Mi.” kata Baek Hee.
“Tapi aku tidak suka.” jawab Hye Mi singkat.
“Kalau begitu, aku juga tidak suka.” kata Baek Hee.
Kalau dilihat dari segi penampilan, Baek Hee memang sama persis dengan Hye Mi. Mulai dari kepangan, gantungan tas, sepatu, bahkan langkah mereka kalau berjalan bersama juga sama.
Hye Mi melihat-lihat foto hasil jepretan Baek Hee satu per satu.
“Aku suka foto yang ini.” kata Hye Mi.
Baek Hee kelihatan sangat senang.
Hye Mi menyimpan foto itu di dompetnya.

Ketika hendak menyebrangi jalan, mendadak ada keramaian. Puluhan orang berteriak-teriak dan berlari mengikuti sebuah mobil hitam.
Orang-orang itu menabrak-nabrak Hye Mi dan Baek Hee. Tanpa sadar, Hye Mi menjatuhkan gantungan tas dan dompetnya.
Seorang pria mengambil dompet itu dan membuka isinya. Hanya ada tiga buah uang koin.
“Dia kelihatan kaya…” gumam pria itu kesal.
Mendadak seorang pria lain datang dan langsung memelintir tangan pria yang memegang dompet. “Jo In Sung, kau masih melakukan itu?!”
“Jin Kuk! Jin Kuk! Sakit!” rintih In Sung. “Aku tidak mencuri! Aku memungut dan berniat mengembalikan pada pemiliknya!”
Mulanya Jin Kuk tidak percaya, tapi akhirnya melepaskan temannya juga.
“Go Hye Mi?” gumam In Sung, membaca nama Hye Mi di dalam dompet.
“Biar kulihat.” kata Jin Kuk, merebut dompet itu dari tangan In Sung. Ia membaca kartu siswa Hye Mi. “SMP Han Kang.”

Jin Kuk menoleh tidak jauh darinya, Hye Mi sedang ribut-ribut mengenai sekolah seni Kirin yang menurutnya menyebalkan.
Jin Kuk tersenyum tipis. “Aku akan mengembalikan dompet ini pada pemiliknya.” katanya.

Jin Kuk mengikuti Hye Mi dari belakang. Ia melihat gerak-gerik Hye Mi yang agak mencurigakan.
Hye Mi mengenakan masker dan topi. Ia berjalan cepat,kemudian melompati alat pembayaran tiket kereta. Itu artinya ia masuk tanpa membayar.
Jin Kuk tersenyum tipis. Cantik-cantik ternyata…

Disuatu tempat di bandara, seorang pria sedang berjalan menarik kopernya. Dikoper itu terpasang gantungan dengan lambang sama dengan milik K.
Orang itu berjalan perlahan dan tersenyum melihat keramaian di depannya. Dengan perlahan, ia melewati keramaian itu. Pria itu adalah Jung Ha Myung.
Itu adalah keramaian para fans yang menyambut idola mereka, Kim Hyun Joong.
Ketika Hyun Joong sedang sibuk menjawab pertanyaan para fans dan wartawan, mendadak Hyun Joong melihat Ha Myung dan menghampirinya.
Rupanya Jung Ha Myung adalah seorang guru di SMA Kirin, SMA yang menjadi sekolah Hyun Joong juga.

Pertemuan Hyun Joong dan Ha Myung itu disiarkan secara live di tv.
Seorang pria dengan wajah dingin langsung mematikan tvnya. “Akhirnya ia kembali kesini.” gumamnya.

Hye Mi berkeliling seorang diri di tempat parkir mobil untuk menyebarkan edaran. Edaran tersebut mengenai perusahaan kredit.
Tanpa Hye Mi sadari, seorang pria mengikutinya dari belakang dan membaca edaran tersebut. “Putri seseorang hancur karena hutang dari sebuah perusahaan kredit.”
Hye Mi menoleh dengan takut-takut.
“Didunia ini, ada sebuah hukum yang disebut kerjasama dan tanggungjawab.” ujar pria itu, terus maju untuk menyudutkan Hye Mi. Ia adalah bos perusahaan kredit, Ma Du Shik. “Jika ayahmu, Go Byung Jik tidak bisa membayar hutangnya, maka kau harus membayar hutang itu dengan uang atau tubuhmu.”
Hye Mi melempar kertas edaran itu ke wajah Du Shik. “Aku tidak akan ikut denganmu!”

Hye Mi berusaha melarikan diri, namun gagal. Ia terkepung.
Dalam kondisi terpojok, akhirnya Jin Kuk datang untuk menyelamatkannya.
Sambil berkelahi, Jin Kuk sembari mencuri dompet si pria penagih hutang. Setelah itu, ia mengembalikan dompet Hye Mi dengan melemparnya pada Hye Mi.
Rupanya Jin Kuk itu pencopet ulung. Hehe…
“Kenapa kau tidak bermain-main dulu denganku?” ajak Jin Kuk pada para penagih hutang.
Hye Mi memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.

Pertarungan yang sengit dan kejar-kejaran terjadi.
Di sisi lain, Hye Mi memeriksa dompetnya. Foto yang ia simpan dari Baek Hee hilang. Hye Mi langsung mencari foto itu, namun tidak bisa menemukannya.
Akhirnya Jin Kuk berhasil melarikan diri sampai ke kereta. Namun sebelum sempat naik, seorang pria berhasil menangkapnya. Mendadak sebuah sepatu melayang yang mengenai kepala si pria jahat. Jin Kuk berhasil melepaskan diri dan masuk dalam kereta.

Karena Jin Kuk masuk dengan terburu-buru, ia menabrak Hye Mi. Untuk mencegah Hye Mi jatuh, Jin Kuk memeluknya. Para penumpang kereta melihat mereka dengan heran.
Begitu sadar dari rasa shock, Jin Kuk dan Hye Mi buru-buru melepaskan diri.
“Kita bertemu lagi.” kata Jin Kuk.
Hye Mi tidak menjawab dan membelakangi Jin Kuk.
“Kau tidak ingat aku?” tanya Jin Kuk.
Hye Mi menoleh.
“Yogurt…” kata Jin Kuk.
“Kembalikan fotoku.” kata Hye Mi dingin.
“Tidakkah kau ingin berterima kasih padaku dulu?” tanya Jin Kuk, tersenyum. “Aku baru saja menyelamatkanmu.”
“Aku juga menyelamatkanmu.” kata Hye Mi, mengorbankan sebelah sepatunya. “Impas, bukan?”

Jin Kuk kelihatan kesal. “Sudah cukup.” katanya seraya berpaling dan beranjak menjauh.
“Mesum.” kata Hye Min dengan keras sampai para penumpang menoleh ke arah Jin Kuk.
Jin Kuk semakin kesal dan berbalik lagi mendekati Hye Mi. “Apa?!”
“Sebagai seorang pria kau pasti menginginkan foto itu.” kata Hye Mi menantang.
Jin Kuk tidak banyak berkomentar. Ia tersenyum dan turun dari kereta begitu kereta tersebut berhenti.Hye Mi mengejarnya. “Kembalikan fotoku!”
Jin Kuk memasang headphonenya agar tidak bisa mendengar teriakan Hye Mi.

Direktur Jung Ha Myung, yang sudah lama pergi, akhirnya kembali ke Sekolah Seni Kirin. Berita tersebut menjadi berita panas seantero sekolah. Orang yang kerap dijuluki hantu kini kembali.
Ha Myung disambut oleh seantero sekolah, termasuk Shi Bum Soo, yang selama kepergian Ha Myung menjadi pemimpin Kirin.
Ha Myung memutuskan untuk melihat kondisi murid-muridnya. Bum Soo mengantarnya berkeliling.
Ketika Ha Myung melihat beberapa murid sedang berlatih dance, ia melihat ada sesuatu yang salah dengan tangan anak itu.

“Buka balutan tanganmu.” perintah Ha Myung.
Di lengan anak itu ditemukan luka bekas jahitan.
“Belakangan ini para penonton menyukau aksi panggung yang hebat.” kata Bum Soo. “Tiga hari lagi mereka akan melakukan pentas. Luka semacam itu tidak masalah.”
Ha Myung menoleh dan dengan tenang berkata, “Batalkan latihan mereka.” kemudian berjalan pergi.
Bum Soo hanya bisa terdiam menahan marah.
Ha Myung berjalan lagi. Ia terhenti ketika melihat kelas persiapan perguruan tinggi kosong, hanya terisi oleh sarang laba-laba dimana-mana.
“Kelas ini hanya diperuntukkan bagi siswa yang tidak memiliki potensi sebagai penyanyi.” kata Bum Soo.
“Lalu kenapa kelas ini kosong?” tanya Ha Myung.
“Karena siswa yang berakhir di kelas ini, akan dikeluarkan.” jawab Bum Soo.
“Apa persiapan audisi siswa baru berjalan lancar?” tanya Ha Myung.
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau ingin menjadi juri?” tanya Bum Soo cemas.
“Memangnya aku tidak boleh menjadi juri?”
“Bu… bukan begitu…”

Ketika Jin Kuk sedang bekerja di tempat pencucian mobil, mendadak Hye Mi datang dan langsung duduk didalam mobil yang sedang dicuci Jin Kuk. Ia mengunci pintu mobil, mengencangkan volume musik dan memejamkan matanya.
Jin Kuk menggedor-gedor jendela untuk memanggil, tapi Hye Mi tidak mendengar.

Berkat ulah Hye Mi itu, akhirnya Jin Kuk mengantarkan Hye Mi ketempat In Sung. In Sung-lah orang yang telah mencuri foto Hye Mi.
“Foto ini?” tanya In Sung, menunjukkan foto Hye Mi. “Aku tidak bisa memberikannya dengan mudah. Bagaimana dengan tarianku tadi? Katakan padaku maka aku akan mengembalikannya padamu.”
“Tarianmu itu sangat…. vulgar.” kata Hye Mi.
“Apa katamu?” tanya In Sung. Ia kemudian meremas dan melempar foto Hye Mi ke lantai.
Hye Mi mengambil fotonya. “Kau ingin aku mengulanginya?” teriaknya marah. “Tarianmu sangat vulgar. Sangat rendahan! Dasar pencuri! Gengster!”
Jin Kuk menarik napas panjang.
“Kau tidak tahu arti gengster, hah?” tanya In Sung kesal, menunjuk-nunjuk kepala Hye Mi. “Kekerasan.”

In Sung benar-benar akan marah, namun Jin Kuk menghentikannya.
“Gadis ini akan membawa kesialan untuk kita.” kata Jin Kuk. “Kita bahkan tidak tahu kapan audisi Sekolah Seni Kirin.”
“Kirin?” tanya Hye Mi merendahkan. “Kalian melakukan ini untuk masuk ke sekolah sampah itu?”
“Apa?! Sekolah sampah?!” In Sung mulai meledak lagi, tapi Jin Suk menahannya.
“Tutup mulutmu dan pergi.” kata Jin Kuk pada Hye Mi.
Hye Mi berjalan pergi, Jin Kuk mengikuti dibelakangnya.

Jin Kuk memberikan sepatunya pada Hye Mi, karena sepatu Hye Mi hilang sebelah untuk melempar penagih hutang.
“Pakailah.” kata Jin Kuk. “Nanti aku akan pulang naik motor.”

Hye Mi melempar sepatu Jin Kuk ke kepala Jin Kuk.
“Ini bau dan tidak keren.” kata Hye Mi angkuh.
Jin Kuk tertawa.
Hye Mi akhirnya pulang ke rumah dengan berjalan kaki menggunakan “sepatu kardus”.
Ketika sampai di depan rumah, Hye Mi mendengar suara caci maki para pria. Para penagih hutang datang lagi untuk mencari Hye Mi.
Hye Mi takut dan langsung bersembunyi.

Setelah para penagih hutang pulang, Hye Mi langsung masuk ke rumah dengan panik.
“Ayah! Hye Sung!” panggil Hye Mi cemas.
Adik Hye Mi, Hye Sung, keluar sambil makan roti.
“Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Hye Mi.
“Mereka menyuruhku menelepon begitu kau pulang ke rumah.” kata Hye Sung. “Mereka akan memberiku banyak roti jika melakukannya.”
Hye Sung memberikan kartu nama perusahaan kredit pada Hye Mi.

Tidak lama kemudian telepon berdering. Rupanya ayah Hye Mi yang menelepon.
“Kau dimana, Ayah?” tanya Hye Sung. “Ah, kau pernah mengatakan agar jangan bertanya ada dimana kau sekarang. Apa?! Kau akan keluar negeri? Kemana?”
Hye Mi merebut telepon itu. “Kau tidak bisa lari terus setiap hari.” katanya.
“Aku akan pergi bersama bibimu ke Kanada dan membantunya.” kata Ayah Hye Mi.
“Lalu kemana kami harus pergi? Rumah ini akan segera dilelang.” kata Hye Mi. “Tinggalkan nomor telepon.”
“Tunggulah orang ini satu… Tidak, dua bulan. Ia akan menjaga kalian.” jawab Ayah. “Namanya Kang Oh Hyuk.”
“Kang Oh Hyuk?!” seru Hye Mi, terkejut sekaligus marah. “Aku tidak akan pergi padanya!”
Hye Mi menutup telepon.

Kang Oh Hyuk adalah salah satu guru di sekolah Kirin. Karena dianggap tidak memiliki kemampuan, maka Bum Soo berniat memindahkan dia ke kelas persiapan perguruan tinggi.
“Aku akan melakukannya setelah mendapat persetujuan Direktur.” ujar Bum Soo.

Hye Mi menemui Oh Hyun dan berbincang di restoran.
“Kau menggoda ibuku hingga ia bercerai dengan ayah.” kata Hye Mi tajam dan keras.
Seluruh tamu restoran menoleh.
“Ya, aku sangat bersalah pada kalian.” bisik Oh Hyun malu.
“Kau ingin membayar rasa bersalahmu?” tanya Hye Mi. “Aku dan adikku mungkin akan tinggal di jalanan. Bisnis ayahku hancur dan ia melarikan diri ke luar Korea. Jadi kami berpikir bahwa kami akan tinggal di rumahmu sampai ayah kami kembali.”

Setelah selesai makan, Oh Hyun meminta Hye Mi tinggal.
“Tunggulah disini.” katanya pada Hye Mi. “Aku akan mengambil mobil.
Oh Hyun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Hye Mi. Untuk hidup sendiri saja susah, apalagi harus menanggung Hye Mi dan adiknya. Sebagai catatan, ibu Hye Mi sudah meninggal.

Sepulang sekolah, Du Shik menjemput Hye Ri di sekolahnya. Mau tidak mau, Hye Ri terpaksa ikut dengannya.

Du Shik mengajak Hye Ri berunding.
Hye Ri memiliki banyak bakat dan kemampuan. Untuk menghasilkan banyak uang, Hye Ri harus menggunakan bakat dan kemampuannya untuk bersekolah di Kirin sampai menjadi bintang terkenal seperti Kim Hyun Joong.
Setelah lulus dari Kirin dengan nilai tertinggi, Hye Ri harus merelease album dibawah perusahaan Du Shik.
“Tapi kudengar sangat sulit masuk ke sana.” kata Du Shik.
“Aku tidak takut pada ujian masuk.” ujar Hye Ri angkuh.
Du Shik menyodorkan surat perjanjian.
“Bagaimana jika aku menolak melakukannya?” tanya Hye Ri.
“Jika rencana A gagal, maka akan dijalankan rencana B.” jawab Du Shik. Rencana B adalah menggunakan Hye Sung sebagai alat pencari uang.
Hye Mi terpaksa setuju.

Hye Mi duduk sendirian di bangku penonton dengan sedih. Ia menatap lurus ke arah panggung, teringat saat-saat ia belajar bernyanyi dan akan mendampingi gurunya menyanyi di pertunjukan musik.
Tanpa terasa, air mata Hye Mi menetes.

Hye Mi memberitahukan Baek Hee bahwa ia akan masuk ke Kirin. Baek Hee terkejut mendengarnya. Baek Hee meminta Hye Mi bernyanyi bersamanya saat audisi karena ia juga ingin masuk ke Kirin.
Hye Mi setuju saja.

Sesuai permintaan Ha Myung, audisi Kirin akan dilakukan secara terbuka. Artinya semua orang bisa melihat peserta audisi saat melakukan performance.
Saat hari audisi, para peserta terlihat sangat gugup. Namun Hye Ri terlihat sangat santai.
Bermacam-macam peserta menunjukkan kebolehannya. Ada yang bagus, unik, jelek dan aneh.

Sebelum audisi, Hye Mi sempat bertemu dengan Oh Hyun.
“Apa kau kesini untuk ikut audisi?” tanya Oh Hyun.
“Untuk apa aku datang ke tempat yang penuh orang kotor sepertimu?” jawab Hye Mi sinis.
Nama Hye Mi dan Baek Hee dipanggil. Kini saatnya mereka maju audisi.
Saat Hye Mi dan Baek Hee bernyanyi, In Sung dan Jin Kuk melihat mereka. Jin Kuk tersenyum.
“Untuk apa dia disini?” tanya In Sung. “Bukankah ia bilang ini sekolah sampah?”

Saat bernyanyi, Baek Hee sempat bernyanyi jelek, namun Hye Mi menutupinya.
“Baik.” kata Ha Myung. “Tapi hanya salah satu dari kalian yang akan lolos audisi.”
Hye Mi tersenyum percaya diri.
“Kami harus lolos bersama.” kata Baek Hee. “Jika kau tidak ingin meloloskan kami berdua, maka gagalkan saja kami berdua.”
“Bagaimana jika kau yang lolos?” tanya Ha Myung pada Baek Hee.
“Tidak apa-apa.” jawab Baek Hee. “Gagalkan saja aku. Kami akan selalu bersama…”
“Tidak.” potong Hye Mi. “Aku tidak punya niat untuk gagal dalam audisi ini bersamanya.”
“Hye Mi, ada apa?” tanya Baek Hee. “Bukankah kita berjanji akan selalu bersama apapun yang terjadi?”
“Kapan aku bilang begitu?” tanya Hye Mi dingin.
“Tapi, kau dan aku…” Baek Hee berkata dengan mata berkaca-kaca seraya meraih tangan Hye Mi, tapi Hye Mi menghempaskannya.
Ha Myung melihat hal itu.
“Aku akan tetap disini.” ujar Hye Mi.
“Yang lolos bukan kau, Go Hye Mi.” kata Ha Myung. “Tapi Yoon Baek Hee.”
Semua juri menoleh kaget pada Ha Myung.

“Apa?!” teriak Hye Mi. “Kau pasti salah! Aku yang gagal?”
Ha Myung mengangguk tanpa ragu.
“Mungkin kau melihat kertas yang salah. Aku Go Hye Mi!” seru Hye Mi angkuh.
“Aku sangat yakin bahwa yang gagal adalah kau.”ujar Ha Myung tenang.
“Paman!” bentak Hye Mi. “Apa kau punya kemampuan untuk menilai kemampuan seseorang?! Apa kau benar-benar ahli dibidang musik?!”

“Beraninya kau memanggil Direktur dengan sebutan Paman!” seru salah seorang juri wanita entah siapa namanya. “Tuan Kang, usir gadis itu keluar!”
Oh Hyun menarik Hye Mi keluar.
“Jangan sentuh aku!: seru Hye Mi, mencoba melepaskan diri.
“Ini sangat menarik.” kata Ha Myung. “Biarkan dia.”
“Aku tidak bisa terima!” ujar Hye Mi bersikeras. “Apa kau tidak mendengar dia kehabisan napas dan menghancurkan keseluruhan lagu? Kurasa kau tidak dengar. Jika kau dengar, kau tidak akan membiarkan dia lolos. Dia hanyalah orang yang mengikutiku kemari. Dia bukan siapa-siapa. Aku selalu jadi nomor satu dan dia nomor tiga.”
Baek Hee memandang Hye Mi dengan terkejut dan sedih sekaligus.

Sebagai jalan tengah, Ha Myung mengusulkan diadakan tes lain.
Ha Myung memainkan piano dan menyuruh Hye Mi menebak lagunya.
Hye Mi berpikir. “Ini campuran lagu.” katanya. “Lagu yang satu Gershwin, apa yang satunya lagi?”
“Aku yakin kau sudah tahu bahwa aku mencampur dua lagu.” kata Ha Myung. “Yang satu adalah Summertime Gershwin, lalu apa lagu yang satunya lagi?”
“Apakah yang satunya… Saint Saens Aquarium?” jawab Hye Mi ragu.
Semua orang menarik napas panjang karena kaget. Masa lagu semudah ini dia tidak tahu?
“Yong Baek Hee, apa kau tahu jawabannya?” tanya Ha Myung.
“Lagu karangan Shin Soo Bong, I Don’t Know Anything But Love.” jawab Baek Hee.
“Benar.”
“Bagaimana mungkin dia tidak tahu lagu itu?” komen In Sung, menonton dari tv.
“Dia bukan tidak tahu, tapi tidak memikirkannya.” ujar Jin Kuk.

“Sekolah ini tidak menerima murid dari golongan tiga.” kata Ha Myung. “Golongan pertama adalah murid yang memiliki bakat dan berusaha keras. Golongan dua adalah orang yang tidak memiliki bakat tapi berusaha keras. Dan golongan tiga…”
“Kau ingin mengatakan bahwa aku tidak memiliki bakat dan tidak berusaha juga?” tanya Hye Mi.
“Orang golongan tiga adalah… seseorang yang berprasangka.” jawab Ha Myung. “Itulah alasan kenapa kau gagal.”
“Dulu, kau selalu menjadi nomor 1.” kata Baek Hee sinis. “Bagaimana rasanya menjadi orang golongan 3?”

Dan saat itulah tembakan ke bola-bola billiar dilakukan…
“Permainan baru saja dimulai, jadi jangan takut dan nikmati saja.”

Hye Mi berpaling dan beranjak pergi. Namun mendadak ia berhenti.
Hye Mi berbalik lagi dan berjalan ke hadapan Ha Myung. Ia kemudian berlutut dan berkata, “Tolong selamatkan aku.”

“Kumohon… Tolong selamatkan aku.” pinta Hye Mi seraya berlutut dihadapan Ha Myung. Lihat juga Sinopsis Episode 3
Semua orang yang menonton menertawakan Hye Mi. Jin Kuk hanya diam.
“Aku harus diterima disini.” ujar Hye Mi.
“Kenapa?” tanya Ha Myung. “Melihat catatanmu, kau tidak akan punya masalah untuk masuk ke semua SMA.”
“Aku harus diterima disini.” ujar Hye Mi memohon. “Apa yang harus kulakukan? Jika kau tidak menyukai penampilanku, aku akan mengubahnya. Jika aku kurang sesuatu, aku akan bekerja lebih keras. Kumohon, tolong terima aku. Aku akan melakukan apapun.”
“Jangan memohon.” kata Ha Myung. “Itu lebih buruk dibandingkan sikap orang golongan tiga.”
Baek Hee tersenyum melecehkan.
“Aku tidak berlutut padamu!” kata Hye Mi angkuh seraya bangkit. “Aku hanya… hanya… hanya… hanya ingin melihat lubang hidungmu!”
Semua orang tertawa terbahak-bahak.

“Suatu saat nanti aku akan membuktikan padamu bahwa keputusanmu salah.” kata Hye Mi menantang.
“Tidak, aku yang akan membuktikan padamu…” ujar Baek Hee, balik menantang. “Bahwa keputusannya benar.”
Hye Mi menatap Ha Myung tajam.
“Kau menggelikan.” ujar Hye Mi pada Baek Hee, kemudian berjalan pergi.
Begitu Hye Mi keluar, Baek Hee langsung pingsan.
Bum Soo mengambil formulir aplikasi Hye Mi, hendak memusnahkannya.
“Tolong berikan itu padaku.” ujar Ha Myung.

Hye Mi keluar. Disana, ia melihat para anah buah Du Shik berjaga diluar. Tidak lama kemudian, Hye Sung mengirimkan sms.
“Aku diusir dari rumah.” kata Hye Sung dalam pesannya.

Di dalam ruang audisi, Baek Hee berusaha mengumpulkan kekuatannya.
“Aku terpilih karena memiliki kemampuan, bukan?” tanya Baek Hee ragu.
Ha Myung terdiam dan menatap bandulnya. “Kemarilah.” katanya.
Ha Myung menyerahkan bandul itu pada Baek Hee.
“Apa ini?” tanya Baek Hee.
“Kau tidak tahu tentang jimat dan lambang kualitas?” tanya Ha Myung. “Kau berusaha mengerti dengan cara yang baik.”
“Jadi, aku… bukan termasuk dalam orang dengan karakter buruk.” ujar Baek Hee dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih. Aku akan benar-benar serius dalam belajar. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.”
Baek Hee terus berterima kasih dan berjalan keluar ruangan sambil terus memegangi jimat Ha Myung.

Saat In Sung dipanggil, ia sedang buang air besar di WC.
“Cepat keluar!” kata Jin Kuk.
“Tidak bisa.” jawab In Sung. “Ini terus-menerus keluar.”
“Kau sangat memalukan.”
“Beri aku waktu 3.. tidak, 5 menit.” kata In Sung. “Aku akan keluar begitu selesai disini.”
Untuk mengulur waktu, Jin Kuk sengaja mencari keributan. Ia mengganggu peserta lain dengan menyodor-nyodorkan pel, kemudian menyemprotkan alat pemadam kebakaran.
Tanpa sengaja, Jin Kuk dikerjar-kejar sampai ke tempat audisi.

“Hey kau!” panggil Ha Myung. “Kalau ingin mengulur waktu, kenapa tidak menari saja?”
“Siapa kau?” tanya Jin Kuk.
“Menarilah.” perintah Ha Myung.
“Aku tanya, siapa kau?!” bentak Jin Kuk. Kelihatannya ia sangat tidak suka jika disuruh melakukan dance.
Ha Myung diam saja. Jin Kuk diseret keluar.

Jin Kuk berjalan pergi. Di suatu tempat, ia melihat seorang peserta, Jason, sedang menari. Ia melihat sejenak dengan ekspresi sedih, kemudian beranjak.

“Bisakah kau mengantarkanku pulang?” tanya Hye Mi ketika melihat Jin Kuk bersiap pergi dengan motornya. Saat itu Jin Kuk mengenakan helm, jadi Hye Mi tidak bisa melihatnya. “Asal aku bisa pergi dari sini, itu sudah bagus. Kumohon padamu.”
Jin Kuk menoleh. “Aku tidak bisa mendengarmu. Apa yang baru saja kau katakan?”
Hye Mi terlihat kesal mengetahui pria itu adalah Jin Kuk. “Aku tidak bilang apa-apa.”
“Kenapa kau tidak membiarkan aku menolongmu?” tanya Jin Kuk.
“Aku tidak bilang apa-apa.” kata Hye Mi penuh harga diri.
Jin Kuk mengendarai motornya. Ia melewati Du Shik yang sedang menunggu Hye Mi.
Jin Kuk masih ingat pada Du Shik.

Jin Kuk kembali menemui Hye Mi, kemudian menawarkan helm. “Ayo.” katanya.
Hye Mi memukul helm Jin Kuk. “Tidak.”
“Aku tidak akan mengajak dua kali.” ujar Jin Kuk.
Pada akhirnya Hye Mi menelan harga dirinya dan naik ke motor Jin Kuk. Jin Kuk tersenyum.
Hye Mi meraih syal Jin Kuk untuk berpegangan.
“Pegang pinggangku.” perintah Jin Kuk.
Mulanya Hye Mi menolak, tapi akhirnya memeluk pinggang Jin Kuk juga. Hehehe….

“Peserta No. 1298, Kim Pil Sook.” panggil juri.
Peserta tersebut masuk. Ia mengenakan kostum sushi.
“Apa kau ingin mengikuti audisi dengan kostum seperti ini?” tanya Bum Soo. “Apa kau tidak percaya diri? Fotomu juga kelihatan buram.
“Ya, sedikit.” jawab Pil Sook.
“Konstummu terlihat tidak pantas.” kata Shi Kyung Jin. “Lepaskan atau keluar saja.”
“Silahkan mulai bernyanyi.” kata Ha Myung pengertian.
Si sushi mulai menyanyi. Suaranya sangat merdu. Tapi Pil Sook punya masalah dengan rasa percaya dirinya.

Hye Mi memeluk pinggang Jin Kuk erat. Diam-diam, Hye Mi berusaha menahan tangisnya.

Jin Kuk mengajak Hye Mi ke pinggir danau.
Hye Mi berjalan menjauhi Jin Kuk.
“Hei!” panggil Jin Kuk, meraih lengan Hye Mi.
“Lepaskan aku.”
“Paling tidak kembalikan helmku sebelum kau pergi!” kata Jin Kuk.
“Lepaskan aku.” kata Hye Mi.
Jin Kuk melepas helm Hye Mi, dan terlihat Hye Mi menangis.
“Sangat memalukan.” gumam Hye Mi seraya berjalan menjauh perlahan.
Jin Kuk meraih tangan Hye Mi, kemudian memasangkan helm itu lagi di kepalanya dan pergi.

Si sushi alias Pil Sook selesai bernyanyi. Para juri terpana oleh suaranya yang merdu.
“Kau sudah selesai bernyanyi, silahkan buka kostummu.” ujar Kyung Jin.
“Aku memenuhi kualifikasi atau tidak?” tanya Pil Sook. “Tolong beritahu aku dulu sebelum kubuka kostumku.”
“Cepat buka kostummu!” bentak Kyung Jin emosi.
“Maafkan aku.” ujar Pil Sook. Akhirnya ia bersedia membuka kostumnya. Suara Pil Sook memang sangat merdu, tapi penampilannya tidak menjanjikan.
Ha Myung tersenyum.
“Kau sepertinya sangat mengagumi dia.” kata Bum Soo, melihat binar di mata Ha Myung.
“Ya.” jawab Ha Myung. “Kelihatannya kau tidak puas dengan penampilannya.”
“Mengeliminasi dia merupakan hal yang sangat disayangkan, tapi penampilannya sangat tidak menarik.” jawab Bum Soo.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Ha Myung. “Aku akan mengikuti keputusanmu.”
Bum Soo menunduk. Ha Myung tersenyum.
Mereka memutuskan untuk meloloskan Pil Sook.
Pil Sook keluar dari ruangan dengan gontai karena sangat terkejut dan senang.
“Aku berhasil, Oppa.” katanya seraya mencium foto Kim Hyun Joong.

Dan inilah para siswa yang lolos. (Dari kiri ke kanan) Kim Pil Sook, Jo In Sung, Yoon Baek Hee dan Jason.

Nasib Kang Oh Hyuk di Sekolah Seni Kirin sudah diujung tanduk. Ia akan segera di pecat.

Dari 100 orang siswa yang rencananya akan diterima oleh Sekolah Seni Kirin, mereka baru mendapatkan 97 siswa.
“Aku sudah memikirkan 3 nama lagi.” ujar Ha Myung. “Aku sudah menentukan 1 orang dan kini 2 nama sisanya muncul.”
“Siapa mereka?” tanya Bum Soo.
“Namanya Song Sam Dong.” jawab Ha Myung yakin. “Ia teman lamaku.”
Bum Soo tertawa kecil. “Song Sam Dong. Aku menjadi sangat ingin bertemu dengannya walau hanya mendengar namanya disebut.

“Sam Dong!” panggil seorang wanita. Ia adalah ibu Sam Dong.
Sam Dong, yang saat itu sedang menjahit buru-buru menyembunyikan jahitannya dan mematikan suara musiknya.
“Kudengar di desa akan diadakan kontes menyanyi, apa kau mau ikut?” tanya Ibu.
“Tentu saja tidak.” jawab Sam Dong. “Kau tahu aku tidak suka menyanyi.”
Ekspresi Ibu Sam Dong ragu mendengar jawaban Sam Dong, seperti tidak percaya.

“Aku yakin semuanya akan setuju dengan penerimaan khusus.” ujar Bum Soo. “Kita juga harus menemukan guru yang memang punya keinginan untuk mengajar.”
“Ini dia, guru yang punya keinginan untuk mengajar.” ujar Ha Myung, mempersilahkan seseorang masuk ke ruangan itu.
Oh Hyuk masuk.
Bum Soo hendak protes, namun Ha Myung tidak menggubrisnya.

Sampai malam, Du Shik masih saja berdiri di depan Kirin.
“Apa audisinya sudah selesai?” tanyanya pada anak buahnya.
“Ya, Direktur.”
“Apa mungkin Go Hye Mi melarikan diri karena tidak lolos?” tanya Du Shik lagi.
“Ya.” jawab anak buah Du Shik. Ia bercerita bahwa sebelumnya pernah melihat dua orang pergi dengan motor. Mungkin itu adalah Hye Mi.
Du Shik langsung memukuli kepala anak buahnya itu karena terlalu bodoh.
“4885!” seru anak buah Du Shik. “Itu nomor motornya!”

Hye Mi menuju rumahnya. Disana, ia menemukan adiknya sedang duduk diantara barang-barangnya yang sudah dibuang bagai rongsokan di pinggir jalan.
“Apa kau diterima?” tanya Hye Sung.
“Aku ditolak.” jawab Hye Mi. “Sekolah sampah itu menolakku!”
“Bukankah kau ikut audisi bersama Baek Hee?”
“Jangan sebut nama si bodoh itu!” seru Hye Mi kesal.

Di rumah, Baek Hee mencopot semua foto dan membuang semua barang-barangnya yang berhubungan dengan Hye Mi. Ia juga memotong rambutnya.

Hye Mi dan Hye Sung lontang-lantung di jalan. Hye Sung mengenakan helm Jin Kuk.
“Kemana kita akan pergi?” keluh Hye Sung setelah lama berjalan. “Apa kita akan pergi ke rumah Tuan Kang?”
“Apa kau gila? Kenapa kita harus mencari dia?” tanya Hye Mi emosi.
“Lalu kemana kita akan pergi? Kita tidak punya tempat tinggal.” kata Hye Sung. “Kita juga tidak punya uang.”
Hye Mi diam sejenak. “Ikuti saja aku.” katanya seraya menggandeng tangan adiknya itu.

Hye Mi mengajak Hye Sung ke tempat In Sung berlatih menari.
“Tempat apa ini?” tanya Hye Sung.
“Sssttt…” bisik Hye Mi menyuruh adiknya agar tidak berisik. “Disini adalah tempat para pencuri bersembunyi. Dibandingkan dengan di luar, disini lebih baik.”
Hye Mi berjalan dan masuk ke dalam mobil yang ada di tempat itu.
Mulanya Hye Sung protes dan mengajak Hye Mi ke tempat Tuan Kang, tapi Hye Mi menolak metah-mentah.
“Kenapa kau sangat membenci Tuan Kang?” gumam Hye Sung.

Di tempat lain, Jin Kuk terdiam. Ia teringat ketika melihat Jason menari. Entah karena insting atau keinginan dan kerinduan yang sangat kuat, Jin Kuk menjatuhkan tasnya dan mulai menari.

Jin Kuk mengendarai motornya ke tempat In Sung dkk berlatih menari. Ia memarkir motornya di luar kemudian masuk ke dalam.
Jin Kuk terkejut ketika melihat helmnya yang dipinjamkan pada Hye Mi berada disana. Ia lebih terkejut ketika melihat Hye Mi dan adiknya tertidur di dalam mobil. Tidak jauh dari tempat Hye Mi tidur, Jin Kuk melihat 5 botol kosong yoghurt .
Jin Kuk menjadi teringat akan masa kecilnya.

“Ini uangku! Kembalikan!” seru seorang anak laki-laki berebut 5 botol yoghurt dengan seorang anak perempuan.
“Aku juga membayar 500 won! Kembalikan!” seru si anak perempuan membalas.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah hingga akhirnya si anak perempuan menangis.
Karena tidak tega, si anak laki-laki terpaksa memberikan yoghurt itu pada si anak perempuan.
“Jin Kuk!” panggil seorang wanita.
Anak laki-laki (yang rupanya adalah Jin Kuk) bergegas bersembunyi. Si anak perempuan mengikuti.
“Apa yang kau lakukan?” tanya anak perempuan.
“Itu ibuku.” jawab Jin Kuk. “Jika aku ditemukan, aku akan dikirim ke rumah yatim piatu.”
Mendengar itu, si anak perempuan menangis lagi. “Apa yang akan kau lakukan?” tangisnya.
“Ingusmu keluar.” kata Jin Kuk.
“Ini bukan ingus. Ini air mata.”
Jin Kuk tersenyum. “Siapa namamu?” tanyanya.
“Go Hye Mi.” jawab anak perempuan itu.

Jin Kuk tersenyum tipis. “Kau… orang seperti apa kau sebenarnya?” gumam Jin Kuk.

Anak buah Du Shik menyebar selebaran untuk mempromosikan perusahaan kreditnya. Tanpa sengaja ia melihat plat nomor motor Jin Kuk. 4885.
Saat itu, Jin Kuk sedang pergi ke supermarket sementara Hye Mi dan Hye Sung akan beranjak pergi.
“Aku menemukanmu.” ujar Du Shik ketika melihat Hye Mi keluar.
Anak buah Du Shik langsung menculik Hye Mi.
“Kakak!” teriak Hye Sung, melihat kakaknya diseret paksa. “Kakak!”
Tapi mobil Du Shik melaju pergi.
Dengan cerdik, Hye Sung menghapal plat nomor mobil Du Shik.

Dalam perjalanan pulang dari supermarket, tanpa sengaja Jin Kuk melihat Hye Mi meronta-ronta melepaskan diri di dalam mobil Du Shik. Jin Kuk hendak mengejar, tapi mobil itu sudah lenyap.

“Lepaskan aku!” teriak Hye Mi.
“Tenang.” perintah Du Shik. “Aku juga akan membawa adikmu bersamamu.”
Mendengar itu, Hye Mi langsung diam.

Du Shik membawa Hye Mi ke klab malam dan menyuruhnya menyanyi, tapi Hye Mi diam saja.
“Sampai aku mati, aku tidak akan menyanyi.” kata Hye Mi.
Du Shik memanggil putranya agar datang.
Seorang pria gemuk kemudian datang dan mendekati Hye Mi. Hye Mi ketakutan. Ia melepas sepatunya kemudian memukul kepala anak Du Shik dengan hak sepatu.
Hye Mi melompat dari panggung dan lari. Namun akhirnya tertangkap juga. Usahanya sia-sia.
“Aku akan memanggil polisi!” ancam Hye Mi.
“Silahkan saja.” tantang Du Shik. “Tapi ingat, adik dan ayahmu ada ditanganku. Siapa suruh kau tidak lolos audisi? Jika kau lolos, keadaannya tidak akan seperti ini.”

Mendadak pintu klab terbuka dan Oh Hyuk masuk ke dalam.
“Lepaskan dia!” ujar Oh Hyuk. “Dia adalah siswa Sekolah Seni Kirin! Aku adalah guru Sekolah Seni Kirin, Kang Oh Hyuk.” Oh Hyuk menunjukkan identitasnya.
Tidak lama kemudian, Hye Sung datang dengan terbatuk-batuk.

Du Shik mengatakan bahwa Direktur Ha Myung telah menerima Hye Mi.
“Aku sudah mencari di internet.” kata Du Shik, berbincang dengan Hye Mi dan Oh Hyuk. “Semua muridmu berakhir mengenaskan dan gagal, jika Hye Mi ikut denganmu, aku takut ia akan mengalami nasib serupa.”
“Kupastikan Hye Mi tidak akan mengalami nasib seperti itu.” kata Oh Hyuk terbata-bata, mencoba berani.
Akhirnya Du Shik melepaskan Hye Mi.

“Aku dengar dari adikmu bahwa kau tidak punya tempat lagi untuk tinggal.” kata Oh Hyuk. “Naiklah ke dalam mobil dan tinggallah di rumahku.”
“Aku menjadi seperti ini karena uang.” kata Hye Mi. “Aku berniat masuk ke sekolah itu, semua karena uang. Tidak ada alasan lain. Kuharap kau benar-benar sudah siap.”
Oh Hyuk mengendarai mobilnya pergi. Pada saat yang bersamaan, Jin Kuk tiba di tempat itu untuk menyelamatkan Hye Mi.

Sesampainya di rumah Oh Hyuk, kakak Oh Hyuk langsung marah-marah dan histeris. Untuk hidup sendiri saja susah, apalagi menghidupi Hye Mi dan Hye Sung juga.
“Aku harus menjaga Hye Mi!” kata Oh Hyuk, menjelaskan pada kakaknya di dalam kamar. “Jika tidak, aku akan menjadi pengangguran! Aku dipecat dari Kirin, tapi Direktur memberiku kesempatan karena Hye Mi. Jika aku bisa membawa Hye Mi, maka aku tidak akan dipecat!”
Tanpa mereka sadari, Hye Mi mendengar pembicaraan mereka dari luar kamar.
Perjanjian antara Oh Hyuk dengan Ha Myung adalah untuk membawa Hye Mi dan dua orang murid lagi ke Sekolah Kirin sebelum tahun ajaran baru dimulai. Jika tidak, maka Oh Hyuk akan dipecat.
Hye Mi mencari berkas milik Oh Hyuk mengenai siswa tersebut. “Song Sam Dong.” gumam Hye Mi, membaca nama di berkas tersebut. Orang yang kedua adalah Hyun Shi Hyeok alias Jin Kuk.

Jin Kuk mengendap-endap masuk ke dalam bangunan milik Du Shik, namun sayang ia dilihat oleh anak buah Du Shik dan terkepung. Du Shik melompat kemudian mendorong anak buah Du Shik hingga terjatuh.
“Go Hye Mi, dimana kau?” panggil Du Shik.
Du Shik datang dengan membawa banyak anak buah. Jin Kuk terpojok.
“Aku melihatmu menculik Hye Mi.” ancam Jin Kuk. “Lepaskan dia atau kutelepon polisi.”
“Jadi kau kemari untuk menyelamatkan Hye Mi.” kata Du Shik tertawa. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Hye Mi. “Hye Mi, kau sudah di rumah?”
“Ada yang ingin kau katakan lagi?” terdengar suara Hye Mi.
Du Shik menutup telepon, lalu memerintahkan anak buahnya menghabisi Jin Kuk.

Perkelahian berat sebelah terjadi. Jin Kuk terjatuh kesakitan setelah dipukul.

Di Kirin, para murid yang lolos saling berkenalan.

Mereka datang ke ruangan Shi Kyung Jin. Ketika murid-murid sampai disana, Kyung Jin menyebar 1000 paku payung ke lantai.
“Lima menit dari sekarang, latihan menari akan dimulai.” Kyung Jin tersenyum. “Dengan kaki telanjang.”
Murid-murid melongo.
“Jika dalam waktu lima menit kalian tidak bisa mengumpulkan keseribu paku payung, aku takut kaki kalian tidak akan bertahan. Akan dimulai dari… sekarang!”
Anak-anak melepas sepatu mereka dan mulai mengumpulkan paku payung secepat mungkin.
Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan semua paku payung.
“Bagus.” kata Kyung Jin. “Kelasku akan lebih berat dari itu.”

Bum Soo sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk tahun ajaran baru.
Seorang wanita hamil membawakan satu berkas dan menyerahkannya pada Bum Soo.
“Direktur sudah memilih orang untuk menggantikanku.” kata wanita itu. “Seseorang dengan latar belakang berbahasa inggris.”
Bum Soo melihat berkas tersebut. “Dari tampangnya, aku merasakan firasat buruk.” gumamnya.

Diatas ini adalah gambar guru baru tersebut. Ia bernama Yang Jin Man, seorang pemain musik. Seorang pria yang temperamental, apalagi jika menyangkut kekasihnya Su In.
Ia berumur 36 tahun dan punya pengalaman mengajar selama 1 tahun. Berusaha menjual keyboardnya demi menikahi Su In.
Bum Soo beranggapan bahwa Ha Myung selalu memilih guru yang salah dan tidak memiliki kualifikasi sama sekali untuk mengajar di Kirin. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus menarik satu per satu guru agar berdiri di pihaknya.

Malam itu, Hye Mi tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk pergi mencari Sam Dong.
Ketika sedang berjalan di Dambong, sebuah desa kecil tempat Sam Dong tinggal, ia melihat arak-arakan ramai. Hye Mi tersenyum. “Kurasa aku menemukannya.”

Hari itu akan diadakan kompetisi menyanyi. Sam Dong termasuk salah satu pesertanya.
“Sam Dong!” panggil seseorang. “Katamu ibumu tidak datang menonton!”
“Memang tidak.” jawab Sam Dong.
“Tapi aku melihatnya ada di bangku menonton bersama ibuku.” kata teman Sam Dong cemas.
“Apa katamu?!”

Sam Dong menjadi panik. Ia berjalan keluar dengan terburu-buru.
Tanpa sengaja Sam Dong bertabrakan dengan Hye Mi. Ponsel Hye Mi terjatuh dan hancur.
“Maafkan aku.” ujar Sam Dong menyesal, memungut ponsel Hye Mi.
“Tidak apa-apa.” jawab Hye Mi seraya bangkit dan berjalan pergi.
Sam Dong melongo dan kelihatan terpesona melihat Hye Mi. Ia terus-menerus memandang Hye Mi tanpa berkedip.

Di sisi lain, Oh Hyuk berusaha mencari Jin Kuk. Ia bertanya pada In Sung dimana Jin Kuk tinggal, kemudian bergegas pergi.
Oh Hyuk mencari Jin Kuk di tempat In Sung berlatih menari.
Disana, Oh Hyuk menemukan Jin Kuk terkapar penuh darah.

Ha Myung datang langsung ke rumah Yang Jin Man untuk mengajaknya bergabung menjadi guru Bahasa Inggris di Kirin.
“Kau salah orang.” kata Jin Man, mulai buka mulut untuk menolak permintaan Ha Myung.
Ha Myung berkeliling melihat kamar Jin Man, kemudian meraih satu disc hitam kuno. Jin Man mulai menyambut hangat Ha Myung karena Ha Myung tahu mengenai disc tersebut.
“Banyak orang yang tidak mengetahui album ini.” kata Jin Man antusias.
Ha Myung menyerahkan kartu namanya pada Jin Man. Direktur Sekolah Seni Kirin.
Jin Man terdiam. “Tidak mungkin.” gumamnya. “Direktur?”

Hye Mi duduk di bangku penonton, menunggu kedatangan orang yang bernama Sam Dong itu.
Setelah beberapa peserta tampil, akhirnya Sam Dong muncul.
“Namaku Song Sam Dong.” kata Sam Dong memperkenalkan diri dihadapan penonton.
Hye Mi terkejut. “Dia Song Sam Dong?” gumamnya.
MC menanyakan apa alasan Sam Dong mengikuti kontes itu.
Sam Dong bingung menjawabnya. Ia melihat ibunya, kemudian terbesit jawaban itu. “Aku ingin ibuku tidur nyenyak. Ia takut aku menjadi perjaka tua.”
“Jadi intinya, kau ingin mengumumkan pernikahanmu.” kata MC.
Sam Dong tertawa. Para penonton ikut tertawa.

Tanpa sengaja Sam Dong melihat Hye Mi. Lagi-lagi ia melongo karena terpesona.
“Disini banyak sekali wanita cantik.” kata MC. “Bawalah satu yang kau suka dan gandeng tangannya ke atas panggung.”
“Sekarang juga?” tanya Sam Dong.
Seluruh penonton bersorak dan bertepuk tangan.
Sam Dong menatap Hye Mi lagi. Hye Mi bingung.
Sam Dong ragu sejenak, kemudian memberanikan diri untuk maju mendekati Hye Mi.
“Bukankah ini sangat menarik? Tidak sengaja menabrak seseorang kelihatan seperti aliran listrik. Sangat tidak disangka.”

“Aku minta maaf karena ini adalah pertemuan pertama kita.” ujar Sam Dong. “Ikutlah bersamaku.” Ia menggandeng tangan Hye Mi dan menariknya ke panggung.
Hye Mi kebingungan.

Sinopsis Dream High Episode 3

Myung menyerahkan sebuah berkas pada Oh Hyuk. Lihat Juga Episode 4“Apakah ini adalah murid spesial?” tanya Oh Hyuk. “Jika Direktur sendiri yang merekomendasikan mereka, berarti pastilah mereka orang-orang yang sangat berbakat.”
“Mereka lemah.” kata Ha Myung. “Yang satu adalah gadis yang sangat angkuh dan berprasangka.” Ha Myung teringat Hye Mi. “Yang satu adalah pemuda yang memiliki keraguan akan impiannya.” Ha Myung teringat Jin Kuk. “Dan yang terakhir adalah pemuda desa yang bakatnya tidak dilihat oleh dunia.” Ha Myung teringat Sam Dong.
“Kenapa kau menyuruhku mencari orang-orang tidak berguna ini?” tanya Oh Hyuk.
“Karena mereka mengingatkan aku padamu.” jawab Ha Myung. “Kelihatannya mereka memang tidak mampu, tapi aku memiliki firasat mereka akan berhasil.”

Sam Dong menarik Hye Mi ke atas panggung.
“Mungkinkah ini adalah reinkarnasi dari Lee Mong Ryong dan Sung Chun Hyang!” seru MC, mengingatkan pada drama Korea lama Sassy Girl Chun Hyang. “Lalu, siapakah gadis ini dan datang dari mana?”
“Aku datang dari Seoul.” jawab Hye Mi. “Namaku Go Hye Mi.”
“Bagaimana jika kalian menyanyi dan menari bersama?” ujar MC.
“Apa?!” seru Hye Mi. “Aku hanya akan mengganggunya jika ikut bernyanyi.”
“Tidak, aku justru akan sangat senang.” kata Sam Dong.
“Aku tidak punya kostum.” tolak Hye Mi mencari alasan.
“Aku memiliki satu kostum tambahan.” balas Sam Dong.

Sam Dong menyerahkan satu kostum pada Hye Mi.
Hye Mi kehilangan kesabaran. “Hei!” bentaknya. “Ini artinya aku menolak!”
Hye Mi melempar kostum Sam Dong ke lantai, kemudian menginjaknya. “Kau mempermalukan diriku dengan menarikku kemari! Sekarang kau memintaku memakai karung beras dan menari?! Kau ingin mati?! Jangan katakan apapun dan ikutlah denganku ke Seoul. Kau terpilih secara khusus untuk bersekolah di Sekolah Seni Kirin.”
Hye Mi meraih tangan Sam Dong dan menariknya, namun Sam Dong menghempaskan Hye Mi.
“Apa kau ingin mati?!” seru Sam Dong membalas. “Kenapa aku harus ikut kau ke Seoul, Dasar gadis tidak tahu sopan santun! Tutup mulutmu dan lenyap dari hadapanku!”

Hye Mi terdiam. Ia membayangkan bagaimana reaksi Oh Hyuk jika ia pulang tanpa membawa Sam Dong.
“Apakah sulit mengenakan karung beras?!” tanya Oh Hyuk dalam pikiran Hye Mi.
Belum lagi omelan kakak Oh Hyuk yang super menyeramkan.
Ia membayangkan Oh Hyuk mengusir ia dan adiknya hingga terpaksa tinggal dijalanan.
“Jika kau mengenakan karung beras itu, kita tidak akan jadi seperti ini.” rengek Hye Sung.

Pada akhirnya, Hye Mi tersenyum pada Sam Dong dan mengambil kostum tersebut.
“Berikan padaku.” katanya bersabar.
Hye Mi mengenakan kostum itu dengan sangat terpaksa.
“Kalian terlihat sangat serasi.” kata MC. “Mari kita saksikan penampilan Song Sam Dong dan Go Hye Mi!”

Sam Dong mulai menyanyi. Ia menyanyi dengan sangat buruk. Ia berteriak-teriak, kemudian batuk-batuk.
Hye Mi menatapnya bingung.
Para penonton tertawa terbahak-bahak.
“Apa kataku?” kata Ibu Sam Dong. “Dia tidak bisa bernyanyi!”
Hye Mi berkata dalam hati, “Jika bakatnya bukan menyanyi, mungkinkah bakatnya menari?”
Setelah selesai menyanyi prolog yang super berantakan itu, akhirnya Sam Dong mulai menari (tetap sambil menyanyi ga jelas).
Hye Mi diam saja, masih memandang Sam Dong dengan pandangan aneh.
Sam Dong terus menari dengan penuh semangat. Lama kelamaan, Hye Mi pun ikut menari. Para penonton pun ikut menari.

“Paling tidak aku tahu ia tidak hebat.” pikir Hye Mi setelah Sam Dong selesai menari dan tereliminasi.
MC kemudian menyuruh Hye Mi menjawab akan menerima Sam Dong atau tidak.
Hye Mi terdiam sejenak, kemudian berkata, “Aku setuju.” katanya, menatap Sam Dong. “Tapi jika kau memenuhi keinginanku. Pergi ke Seoul bersamaku.”
Sam Dong menjatuhkan micnya.
“Apakah Song Sam Dong bersedia ikut dengan gadis ini ke Seoul?” tanya MC pada Sam Dong.
“Aku setuju saja.” jawab Sam Dong. “Tapi ibuku sering sakit punggung jika musim dingin…”
“Song Sam Dong akan pergi ke Seoul!” teriak Ibu Sam Dong. “Aku akan membiarkannya terbang bebas.”
Penonton bertepuk tangan.

Setelah selesai berlatih menari, murid-murid Kirin beristirahat.
Dengan malu-malu, Pil Sook memberikan satu botol air mineral pada Jason.
“Terima kasih.” kata Jason dengan Bahasa Inggris. Pil Sook sangat senang.

“Untuk upacara pembukaan penerimaan siswa baru, aku ingin mengadakan pertunjukan.” kata Kyung Jin. “Aku ingin menambahkan satu orang murid perempuan untuk melakukan tari solo.”
Murid-murid langsung ramai.
“Tanpa kukatakan, kalian pasti tahu bahwa pertunjukan solo di acara pembukaan sangatlah luar biasa.” tambah Kyung Jin. “Yang ingin mendapat kesan baik, angkat tangan kalian.”
Jeong Ah Jeong dan Baek Hee mengangkat tangan mereka, begitu juga beberapa murid lain.
Pil Sook juga ingin mengangkat tangannya, tapi Kyung Jin menatapnya tajam. Pil Sook menurunkan tangannya lagi.

“Nomor 19, kenapa kau ingin menari solo?” tanya Kyung Jin.
Gadis itu ragu. “Mungkin karena akan terlihat bagus.” jawabnya.
Kyung Jin menanyakan hal yang sama pada Ah Jeong.
“Demi ibuku yang sudah meninggal.” jawab Ah Jeong. “Saat kecil, ia mengatakan bahwa ia sangat senang melihatku menari. Aku ingin ia melihatku dari surga.”
“Nomor 7, bagaimana denganmu?” tanya Kyung Jin pada Baek Hee.
“Aku tidak punya alasan.” jawab Baek Hee. “Aku akan sangat senang jika Ah Jeong yang terpilih.”
Akhirnya murid-murid menentukan bahwa Ah Jeong-lah yang menari solo.

Oh Hyuk membawa Jin Kuk, yang terluka parah, ke rumah sakit.
Dokter menyuruh Oh Hyuk menghubungi keluarga Jin Kuk, tapi ia tidak bisa menemukan satu pun sanak saudara Jin Kuk di handphone.
“Tidak ada nama ‘Ibu’.” gumam Oh Hyuk. “Tidak ada ‘Ayah’ juga.”
Akhirnya Oh Hyuk menelepon salah satu kontak dan mengatakan bahwa Jin Kuk sedang berada di ruang gawat darurat.

Hye Mi menyerahkan surat rekomendasi Direktur Sekolah Kirin pada Sam Dong.
“Aku tidak ingin pergi.” kata Sam Dong. “Kenapa aku harus kesana? Apa aku ini?”
“Aku juag berpikir, siapa kau.” pikir Hye Mi dalam hati.
“Direktur berkata bahwa kau memiliki bakat.” bujuk Hye Mi. “Aku harus membawamu kesana.”
“Jadi, kau mau naik ke panggung hanya untuk memberiku ini?” tanya Sam Dong.
“Jadi, kau pikir aku naik ke panggung karena menyukaimu?” pikir Hye Mi dalam hati.
“Aku tetap akan naik ke panggung jika tidak ada ini.” kata Hye Mi menghibur, memamerkan senyumnya.

“Benarkah?” tanya Sam Dong.
“Tentu saja.” jawab Hye Mi, mendekati Sam Dong untuk merayunya. Hye Mi menyentuh tangan Sam Dong. “Bersikaplah berani dan ikut denganku.”
Sam Dong terdiam sejenak. Ia mundur menjauh dari Hye Mi. “Tunggu, biarkan aku berpikir.” katanya. “Jadi, kau ingin aku ikut denganmu?”
“Ya.” jawab Hye Mi, maju mendekati Sam Dong lagi. “Kita harus pergi bersama.”
Sam Dong melompat dan jongkok di pojokan ruangan. “Ibuku harus ikut bersamaku.” katanya.
“Ikutlah bersamaku.” bujuk Hye Mi.
Wajah Sam Dong berubah serius. “Maaf, aku tidak bisa.”
Senyum Hye Mi menghilang. “Hei! Kau ingin mati?!” bentaknya.
Sam Dong kaget setengah mati. Ia ketakutan dan kabur pulang ke rumah.

Hye Mi mencoba mengejar Sam Dong.
“Kemana dia pergi?” gumamnya.
Mendadak Oh Hyuk menelepon Hye Mi dan menanyakan perkembangan usaha Hye Mi.
Oh Hyun menyuruhnya kembali, tapi Hye Mi bersikeras akan menyelesaikan masalah Sam Dong dengan caranya sendiri yakni “Taktik penggoda.”

Setelah menelepon, Oh Hyuk masuk dan bertanya pada suster mengenai Jin Kuk.
Rupanya Jin Kuk sudah pergi tanpa sepengetahuan Oh Hyuk. Suster itu malah menyuruh Oh Hyuk membayar biaya pengobatan.

Jin Kuk dijemput oleh ayahnya, seorang politisi terkenal, Hyun Moo Jin.
“Aku membiarkan kau pergi karena kau berkata ingin hidup yang tenang.” kata Moo Jin. “Jika kau tidak bisa hidup tenang, aku akan mengirimmu bersekolahdi luar negeri.”
Jin Kuk terdiam.
“Dengan masalah perusahaan, aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.” kata Moo Jin. “Aku tidak punya waktu mengurusi masalahmu. Jika kau memang putraku…”
“Jika kau ayahku…” Jin Kuk memotong ucapan ayahnya. “Jika kau memang ayahku, kau akan menanyakan keadaanku yang seperti ini. ‘Bagaimana keadaanmu?’, ‘Apakah lukamu parah?’, ‘Siapa yang melakukan ini?’.”
Jin Kuk memandang ayahnya dengan pandangan sedih, kemudian keluar dari mobil.

Sam Dong ikut kompetisi menyanyi demi mendapatkan hadiah untuk ibunya.
Dalam perjalanan pulang, Sam Dong dan ibunya tidak menyadari kalau Hye Mi menyelinap di balik sayur-sayuran yang mereka bawa.
“Apa yang dikatakan gadis dari Seoul itu?” tanya Ibu. “Apa ia menyukaimu?”
“Tentu saja.” jawab Sam Dong malu-malu.
“Benarkah?” tanya Ibu senang. “Aku juga menyukai gadis itu.”
“Selamat malam, Ibu!” terdengar suara Hye Mi.
Hye Mi membungkuk memberi hormat. Sehelai sayuran jatuh dari kepalanya. Hye Mi menginjak sayuran itu.
“Bagaimana kau sampai disini?” tanya Sam Dong bingung dan terkejut sekaligus.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” kata Hye Mi, memamerkan senyumnya.

Hye Mi menyerahkan surat rekomendasi Ha Myung pada Ibu Sam Dong.
“Ia mengatakan suara nyanyianmu bagus.” kata Ibu Sam Dong apda putranya.
Sam Dong tertawa. “Bagaimana mungkin?” tanyanya. “Aku dieliminasi saat kontes menyanyi.”
Sam Dong melirik ibunya. Saat kompetisi, sepertinya Sam Dong sengaja menjelek-jelekkan suara dan tariannya.
“Lupakan saja.” tolak Sam Dong. “Aku tidak akan pergi.”
“Tolong pikirkan lagi.” bujuk Hye Mi. “Aku juga akan bersekolah di sekolah ini. Nomor teleponku tertulis dihalaman belakang. Pikirkan kembali dan hubungi aku.”

Hye Mi beranjak pergi.
“Mau kemana kau?” tanya Ibu.
“Aku akan kembali ke Seoul.” jawab Hye Mi.
“Seoul? Tidak ada lagi bus yang ke Seoul malam-malam begini.” kata Ibu. “Menginaplah disini.”
Ibu menyuruh Sam Dong menyiapkan segala sesuatu untuk Hye Mi.

Jin Kuk kembali ke tempat tinggalnya. Oh Hyuk bergegas menyusul.
Oh Hyuk sangat cemas. “Apakah lukamu terbuka lagi?” tanyanya. “Siapa yang melakukan ini? Apa kau sudah melapor?”
“Pergi!” seru Jin Kuk. “Kau pikir siapa dirimu, Paman?!”
“Jangan bicara, jawab saja.” kata Oh Hyuk. “Apa kau baik-baik saja?”
Jin Kuk tertawa kesal. “Aku baik-baik saja.” jawabnya, lalu terjatuh.
Oh Hyuk menangkapnya.
“Perutku…” rintih Jin Kuk.
“Perutmu kenapa?” tanya Oh Hyuk panik.
“Perutku… lapar…”

Oh Hyuk menemani Jin Kuk makan.
Jin Kuk makan dengan rakus dan sudah menghabiskan banyak mangkuk.
“Kenapa kau mencariku?” tanya Jin Kuk.
“Izinkan aku memperkenalkan diri.” kata Oh Hyuk. “Aku adalah Kang Oh Hyuk dari Sekolah Seni Kirin. Kita bertemu saat audisi.”
“Benarkah?” tanya Jin Kuk. “Aku tidak ingat.”
“Tidak ingat?” gumam Oh Hyuk. “Apa kau ingin bersekolah di Kirin? Direktur memilihmu secara khusus.”
Jin Kuk tidak menjawab, malah meneruskan makannya.

Hye Mi menginap di rumah Sam Dong.
“Dimana kamar kecilnya?” tanya Hye Mi pada Ibu Sam Dong.
Ibu Sam Dong menyuruh Sam Dong mengantar Hye Mi.
“Katakan saja arahnya.” kata Hye Mi.
“Kau ingin ke sana sendirian?” tanya Ibu. “Banyak babi hutan disana.”
“Apa?!” seru Hye Mi.

Akhirnya, Sam Dong-lah yang mengantar Hye Mi.
Kamar kecil itu letaknya jauh dan ada di tengah hutan.
“Sampai kapan kau didalam?” tanya Sam Dong. “Aku kedinginan.”
“Sam Dong, bisakah kau menutup telingamu?” pinta Hye Mi.
“Apa kau malu pada suara yang kau buat?” ejek Sam Dong.
“Tutup telingamu!” seru Hye Mi.
Sam Dong tidak menutup telinganya.
“Jika kau tidak mau menutup telingamu, maka nyanyikan sebuah lagu.” ujar Hye Mi.
“Aku tidak mau.” tolak Sam Dong. “Kau saja yang menyanyi.”

Hye Mi menyanyi lagu Only Hope.
Sam Dong terpesona mendengar suara Hye Mi. Ia menengadahkan kepalanya memandang butiran salju yang turun, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh butiran salju.

Hye Mi dan Sam Dong berjalan pulang bersama.
“Jika kau ingin tertawa, tertawa saja.” kata Hye Mi. “Jangan ditahan. Aku menyanyi ketika sedang di dalam kamar kecil.”
“Itu tidak lucu.” kata Sam Dong. “Nyanyianmu sangat enak didengar.”
“Kau sangat beruntung.” kata Hye Mi. “Lain kali, jika kau ingin mendengar nyanyianku, kau harus menghabiskan banyak uang.”
Hye Mi kembali berjalan dan tanpa sengaja tersandung. Sam Dong memeganginya agar tidak jatuh.
“Hati-hati.” kata Sam Dong. Ia menggandeng tangan Hye Mi. “Ikuti aku.”

Oh Hyuk mulai mempromosikan Kirin pada Jin Kuk.
“Jika aku pergi kesana, apa aku bisa terkenal?” tanya Jin Kuk.
“Tentu saja jika kau berusaha keras.”
“Apa aku bisa terkenal seperti Michael Jackson?” tanya Jin Kuk lagi. “Apa kau tahu berapa persen peluang itu? 100%?”
“Aku seorang guru.” kata Oh Hyuk. “Aku tidak akan berbohong pada muridku.”
“50%? 30%?” Jin Kuk terus bertanya. “0%? Jujurlah padaku.”
“0.00001 tergantung keberuntungan.” jawab Oh Hyuk.
“Hmmm…” Jin Kuk tersenyum, kemudian berjalan pergi meninggalkan Oh Hyuk.

Jin Kuk naik lift hendak ke lantai 11. Oh Hyuk mengikutinya. Ia berpikir sejenak.
“Menurutmu, jika kau naik lift dan aku naik tangga, siapa yang akan sampai lebih dulu?” tanya Oh Hyuk.
“Tentu saja aku.” jawab Jin Kuk.
“Kemungkinan aku sampai duluan adalah 0.0000001%.” kata Oh Hyuk.
“Apa itu mungkin?”
“Jika aku sampai duluan, berarti hal itu bukannya tidak mungkin kan?” ujar Oh Hyuk menantang.
Jin Kuk tertawa kecil.
“Jika aku yang sampai duluan, kau harus bersekolah di Kirin.” tantang Oh Hyuk. “Bagaimana?”
“Baiklah.” jawab Jin Kuk tanpa pikir panjang.

Dalam hitungan ketiga, Oh Hyuk bergegas berlari ke lantai 11 lewat tangga.
Jin Kuk tersenyum, menunggu pintu lift tertutup. Saat pintu lift tertutup, ternyata Oh Hyuk meninggalkan sebelah sepatunya disana. Pintu lift terbuka lagi.
“Paman yang memalukan.” gumam Jin Kuk.
Di dalam lift, Jin Kuk memainkan sepatu Oh Hyuk. Tanpa ia sadari, kaki dan tangannya mulai menari.

Jin Kuk tiba di lantai 11. Disana belum ada Oh Hyuk.
Jin Kuk tersenyum tipis dan mulai melangkahkan satu kaki untuk menapak di lantai 11. Namun mendadak ia terdiam, ragu… dan membiarkan pintu lift tertutup lagi.

Oh Hyuk tiba di lantai 11.
“Aku duluan.” kata Oh Hyuk seraya terjatuh di lantai karena kelelahan.
Tidak lama kemudian, Jin Kuk keluar dari lift.
“Kau lihat?” ujar Oh Hyuk terengah-engah. “0.00000%.”
“Jangan berpikir kau menang.” kata Jin Kuk, tersenyum. “Aku yang datang pertama, tapi tidak keluar.”
Oh Hyuk tertawa.
“Tuan, apa kau punya kamar kosong di rumahmu?” tanya Jin Kuk.
“Ada. Memangnya kenapa?”
Jin Kuk tersenyum.

Sam Dong mengantar Hye Mi ke halte bus. Tidak sengaja gantungan hp milik Hye Mi terjatuh. Itu adalah gantungan hp yang sama dengan milik Baek Hee.
“Apa ini?” tanya Sam Dong. “Ini bagus.”
“Aku memberikannya padamu.” kata Hye Mi.
Bus tiba.
“Kau akan pergi ke Kirin, kan?” tanya Hye Mi sebelum naik ke bus.
“Aku tidak mengatakan akan pergi.” jawab Sam Dong. “Berhentilah bertanya.”
Setelah Hye Mi masuk ke dalam bus, Sam Dong memandang gantungan hp berbentuk hati yang diberikan Hye Mi.
Ia terdiam sejenak, kemudian berlari mengejar bus yang ditumpangi Hye Mi.

“Paman, hentikan busnya!” teriak Sam Dong.
Bus berhenti.
“Aku punya satu pertanyaan.” kata Sam Dong pada Hye Mi lewat jendela bus. “Kemarin… kenapa kau naik ke panggung bersamaku?”
Hye Mi tersenyum. “Aku melakukannya agar kau mau ikut pergi denganku ke Seoul.” jawabnya.
“Jika kau menyukaiku…”
“Aku menyukaimu.” kata Hye Mi.
“Apa katamu.”
“Aku menyukaimu.” ulang Hye Mi. “Karena aku menyukaimu, maka aku naik ke panggung denganmu. Jadi, ikutlah bersamaku ke Seoul.”

Hye Mi tersenyum. Sam Dong melongo melihat senyumnya.
Sam Dong membayangkan dirinya mengecup bibir Hye Mi.
“Apa kau tidak mau naik?!” omel supir bus.
“Tidak.” teriak Sam Dong. “Pergilah.”
“Kau harus datang!” seru Hye Mi. “Aku menyukaimu! Kau harus datang!”
Bus Hye Mi berjalan pergi.
Sam Dong memegang dadanya. “Dia pembohong.” gumamnya pada diri sendiri. “Ia berbohong. Gadis jahat itu seperti racun. Jangan terpengaruh, Sam Dong.”

Baek Hee secara kebutan bertemu dengan Doo Shik di jalan.
“Kau supir Hye Mi, bukan?” tanya Baek Hee. “Ini adalah pakaian dan buku yang dipinjamkan Hye Mi padaku. Aku tidak membutuhkannya lagi. Tolong kembalikan padanya.”
“Aku bukan supirnya.” kata Doo Shik. “Jadi kau benar-benar tidak tahu? Keluarga Hye Mi bangkrut.”
“Apa?!”

Baek Hee berlari ke rumah lama Hye Mi. Disana sudah ditempati orang lain.
Baek Hee sangat terkejut dan menangis. “Kau gadis jahat berhati dingin.” gumamnya.

Yang Jin Man akhirnya setuju menjadi guru Bahasa Inggris di Kirin.
Ha Myung mengenalkan Jin Man pada Oh Hyuk.
Oh Hyuk sepertinya mengenal Jin Man, namun Jin Man bersikeras tidak mengenal Oh Hyuk.

Saat Oh Hyuk dan Jin Man ditinggal berdua di lift oleh Ha Myung, Jin Man langsung marah besar.
“Aku ingat!” seraya Jin Man marah seraya menarik kerah kemeja Oh Hyuk. “Kau menyuruhku menyanyi bersamamu, tapi kau malah tidak datang di acara broadcast! Aku harus mengambil deposit apartemen untuk membayar penalti kontrak! Jangan lagi berkata bahwa kau mengenalku!”

Hye Mi akhirnya sampai di rumah Oh Hyuk.
“Hye Sung, aku pulang!” sapa Hye Mi sambil minum yogurt.
Mendadak Hye Mi menjatuhkan yogurtnya ke lantai karena terkejut. Jin Kuk ada dihadapannya hanya dengan mengenakan handuk.
“Kenapa kau ada disini?” tanya Jin Kuk.
“Kau sendiri? Kenapa kau ada disini?” tanya Hye Mi.

Jin Kuk maju untuk mendekati Hye Mi, tapi tiba-tiba handuk yang dikenakan Oh Hyun terjatuh di lantai.
“Aaaghhhhh!!!!” teriak Hye Mi.
Jin Kuk malah ikut berteriak.

Hye Mi ribut dengan Oh Hyuk mengenai Jin Kuk. Kenapa Jin Kuk harus tinggal di rumah Oh Hyuk bersamanya? Namun Oh Hyuk tidak punya pilihan lain.
“Asal kita tidak memanggil nama aslinya, dia akan baik-baik saja dengan kita.” kata Oh Hyuk.

Ha Myung duduk diam di ruang kelas persiapan perguruan tinggi yang berantakan dan tidak terurus.
Tidak lama kemudian, Bum Soo datang untuk membicarakan upacara penerimaan siswa baru. Ha Myung tidak terlalu antusias dengan upacara itu.

Para siswa Kirin antre untuk mengambil seragam mereka.
Jason berbaris dengan Pil Sook.
“Apa ini?” tanya In Sung, menunjukkan sebuah rok besar. “Ini selimut atau rok?”
Semua siswa tertawa.
“Pemilik seragam ini, tolong maju. Jika tidak, aku akan membawanya.”
Pil Sook menunduk malu dan lari ke belakang. Jason menatapnya.
In Sung membaca nama di rok itu. “Kim…”
“Itu milikku!” ujar Jason seraya merebut rok itu dari tangan In Sung. Pil Sook mengintip dari kejauhan.
“Itu rok milik perempuan.” kata In Sung. “Laki-laki mengenakan celana.”
“Celana dipakai oleh laki-laki dan perempuan.” kata Jason. “Jika kau mengenakan celana, bukan berarti kau laki-laki.”
Jason mengambil seragam itu kemudian memberikannya pada Pil Sook.
“Terima kasih.” kata Pil Sook.

Baek Hee sangat terkejut ketika melihat Hye Mi datang ke Kirin.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Baek Hee.
“Kau tidak tahu?” tanya Hye Mi dingin. “Aku adalah siswa khusus.”
“Memangnya ada penerimaan seperti itu?” tanya murid lain bingung.
“Ayo kita bicara diluar.” ajak Baek Hee.
“Bicara saja disini.”
“Aku mendengar mengenai keluargamu.” kata Baek Hee. “Ayahmu bangkrut. Karena itulah kau tidak melanjutkan sekolah musik, bukan?”
Semua murid mendengarkan mereka. Hye Mi berjalan pergi.

Baek Hee mengikuti Hye Mi ke ruangan menari.
“Kenapa kau tidak mengambil microphone saja dan mengumumkan pada semua orang bahwa keluargaku bangkrut dan aku menjadi pengemis?!” seru Hye Mi. “Pengemis itu kemudian masuk ke sekolah sampah!”
Baek Hee memeluk Hye Mi. “Maafkan aku.” katanya. “Aku sungguh minta maaf.”
“Lepaskan aku!” teriak Hye Mi, berusaha melepaskan diri dari Baek Hee.
“Aku sungguh tidak tahu. Jika aku tahu lebih awal….”
“Apa yang akan kau lakukan jika tahu lebih awal?” tanya Hye Mi. “Apa kau mau membayar hutangku?!”
“Seharusnya aku menyadarinya saat kau melepaskan sekolah musikmu.” kata Baek Hee.
Mata Hye Mi berkaca-kaca. “Kau pikir siapa dirimu?” Ia kemudian berbalik agar air matanya tidak terlihat Baek Hee.

“Apa kau mengasihani aku?!” teriak Hye Mi. “Kau adalah Yoon Baek Hee, yang melayani Go Hye Mi. Kau ingin bertanya bagaimana rasanya menjadi orang golongan tiga? Aku belum merasakannya.”
“Hye Mi…”
“Kita bertemu lagi saat upacara penerimaan.”kata Hye Mi seraya berjalan pegi meninggalkan Baek Hee.
Semua murid menonton mereka.
Ketika Hye Mi berjalan keluar, seorang murid menyelengkat kakinya hingga terjatuh dan membuat kaku Hye Mi terluka.

Baek Hee berpikir, untuk mendapat kesan diatas Hye Mi, ia ingin menari solo di upacara pembukaan.
Baek Hee langsung menemui Kyung Jin.
Kyung Jin meminta Baek Hee mengatakan sendiri pada Ah Jeong bahwa Baek Hee-lah yang ingin tampil di upacara pembukaan.
Kyung Jin juga mengatakan pada Baek Hee bahwa ibu Kyung Jin tidak benar-benar meninggal. Ibu dan ayah Ah Jeong bercerai dan si ibu tinggal di Amerika.
“Aku juga ingin memberimu saran…” ujar Kyung Jin.

Ketika loker sedang tidak ada orang, Baek Hee membuka loker Ah Jeong dan melakukan sesuatu pada sepatu Ah Jeong.

Sam Dong bersenandung sambil memotong kayu. Tanpa ia sadari, ibunya mendengar.
“Aku menyanyi sengan baik.” kata ibunya, terkejut. “Aku tidak menyangka kau bisa menyanyi. Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”
Rupanya ayah Sam Dong adalah seorang penyanyi. Ibunya sangat membenci ayahnya. Karena takut ibunya khawatir, maka Sam Dong berpura-pura tidak tahu dan berpura-pura tidak bisa menyanyi.
Ibunya kemudian meminta Sam Dong pergi ke Seoul untuk belajar.

Hye Mi menjadi bahan caci maki di sekolahnya. Jin Kuk tidak senang mendengar orang-orang membicarakan Hye Mi.
“Hoy, kemari!” panggil Jin Kuk pada Hye Mi. Ia mengisyaratkan pada Hye Mi agar duduk disampingnya, kemudian memberikan sebelah earphonenya pada Hye Mi.
“Kau tidak ingin mendengarkan?” tanya Jin Kuk.
“Tidak perlu.” jawab Hye Mi.

Jin Kuk mendekati Hye Mi dan meletakkan earphone itu ke telinga Hye Mi.
“Apa ini? Aku tidak bisa mendengar apa-apa.” kata Hye Mi.
“Sangat berguna, bukan?” tanya Jin Kuk cerdik. “Apa yang tidak ingin kau dengar, kau tidak akan bisa mendengarnya.”
Hye Mi tersenyum dan mengenakan earphone itu.

Pil Sook sangat menyukai Jason dan menempelkan permen di loker Jason.
Jason mengambil permen itu.

Di lain sisi, Sam Dong masih berpikir-pikir mengenai Sekolah Kirin.

Baek Hee dan Ah Jeong bertanding untuk memperebutkan posisi menari solo di acara penyambutan murid baru.
Ketika sedang menari, mendadak Ah Jeong terjatuh.
Rupanya di dalam sepatu Ah Jeong ada paku payung.
Baek Hee berpura-pura terkejut dan mengantarkan Ah Jeong ke klinik.

Hari Upacara Pembukaan Siswa Baru Sekolah Seni Kirin.
Ada tiga acara penting. Yang pertama adalah pidato Menteri Seni, yakni Bum Soo. Yang Kedua adalah perkenalan siswa yang diterima secara khusus. Lalu yang ketiga adalah penampilan solo terbaik.
Dan pada hari yang sama, Sam Dong tiba di Seoul. Tapi ia tidak tahu kemana harus pergi alias buta arah.Tiba-tiba dilihatnya seorang anak kecil menangis. Sepertinya anak kecil itu berpisah dari ibunya.

Di sisi lain, Hye Mi, Jin Kuk dan Oh Hyuk cemas menunggu Sam Dong.
“Aku tahu akan begini jika kau hanya menggunakan kecantikanmu untuk membujuknya.” keluh Oh Hyuk. “Seharusnya aku saja yang menjemputnya.”

Setelah pembukaan oleh Bum Soo, Jason mengisi acara dengan menampilan dance solo.

Sam Dong membantu dan menunggu si anak hilang sampai bertemu dengan ibunya.
Ia menngantar si anak hilang ke informasi.

Penampilan selanjutnya adalah dance solo wanita, tidak lain adalah Baek Hee.
Hye Mi terkejut melihat Baek Hee.

“Biar aku memberimu saran.” Baek Hee teringat Kyung Jin berkata. “Kau tahu apa yang lebih penting dari teman di tempat ini? Seorang saingan. Karena itu akan mendorongmu untuk berkembang.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: